Highlights

Jadi ”Murid” di Madrasah Serba-Elektronis di Singapura

photo02Selasa, 14 Juli 2009
Pijit Tombol agar Tidak Merasa Dianaktirikan

Dalam kapasitasnya sebagai partner di Indonesia, DAHLAN ISKAN Sabtu lalu (11/7) diundang menghadiri peresmian gedung baru madrasah di Singapura. Madrasah itu sama sekali berbeda dengan madrasah tempat chairman/CEO Jawa Pos tersebut belajar di Magetan, Jatim, dulu. Berikut catatannya.

MADRASAH itu punya sistem pembelajaran yang modern. Setiap bangku pada salah satu ruang kelas, misalnya, dilengkapi dengan alat elektronis. Di depan kelas terdapat sebuah papan yang selain dapat ditulisi juga bisa jadi layar proyektor. Misalnya kalau seorang guru (ustad) suatu saat harus menampilkan pertanyaan. Di masa lalu para murid akan berebut angkat tangan (ngacung) untuk menunjukkan siap menjawab. Dalam kasus ada beberapa anak yang berbarengan mengangkat tangan, maka akan terjadi subjektivitas sang guru: mau memilih murid yang mana untuk menjawab lebih dulu? Pilihan subjektif itu bisa merusak mental si anak. Ada saja anak yang merasa dianaktirikan karena angkat tangannya diabaikan oleh guru.

Di madrasah Singapura tersebut tidak akan pernah terjadi hal seperti itu. Ketika di layar proyektor muncul pertanyaan, para siswa (santri) bisa langsung memijit alat elektronis yang ada di tangannya. Dari situ bisa diketahui siapa yang lebih dulu memijit tombol. Nah, dialah yang berhak menjawab lebih dulu.

Madrasah tersebut memang serbaelektronis. Di kelas pelajaran bahasa Arab, misalnya, papan tulisnya juga bisa jadi papan elektronis. Misalnya, ada enam pertanyaan di sebelah kanan. Lalu, ada pilihan jawaban di sebelah kiri. Maka, pilihan jawaban tersebut bisa digeser-geser untuk disesuaikan dengan pertanyaannya. Tulisan-tulisan di papan itu, yang dipancarkan dari proyektor, bisa dipindah ke bagian mana pun di papan itu tanpa harus menghapus dan menuliskannya lagi.

Saya mencoba menjadi siswa di situ. Saya memegang alat elektronis berbentuk seperti spidol. Alat itulah yang saya pakai menggeser kata “hua (dia) Ustman bin Affan” agar sejajar dengan pertanyaan “man hua (siapa dia)….?”

Demikian juga sarana di kelas bahasa Inggris atau matematika. Di kelas bahasa Inggris (dan juga Arab), digunakan software komik. Setiap siswa menghadap ke komputernya. Lalu, di layar masing-masing muncul komik yang tidak ada dialognya. Muridlah yang harus mengisi kolom-kolom kosong di komik itu sesuai dengan kalimat percakapan yang dia inginkan. Maka, saya lihat kelas bahasa itu seperti anak-anak lagi main game. Alangkah menyenangkan. Sebagian komik diambil dari server sekolah sendiri dan sebagian lagi diambil secara online lewat internet.

Di kelas matematika untuk kelas 1 ibtidaiyah/SD, alat peraganya juga elektronis. Di layar proyektor itu ada gambar timbangan. Di sisi kiri si guru menaruh gajah dengan berat 705 kg. Di pojok layar yang lain tersedia beberapa angka yang bisa dipindah-pindah dengan kursor. Tugas si murid menaruh angka-angka itu di timbangan sisi kanan. Kalau angka yang ditimbun di situ sudah sama dengan berat si gajah, timbangan akan seimbang. Kalau belum, masih terlihat njomplang. Begitulah. Saya tidak melihat pemandangan sekolah lagi. Saya seperti melihat kios playhouse yang besar.

Madrasah tersebut memang baru menempati gedung baru setelah 40 tahun menyewa gedung sekolah yang model lama. Di kompleks baru itu semua serbamodern. Di pojok depan ada masjid baru dua lantai yang bisa menampung jamaah hingga 2.000 orang. Di sisi kanan ada gedung MUIS (lembaga yang mengurus masyarakat Islam di Singapura) delapan lantai. Pengadilan agama, urusan haji, dan koordinasi masjid ada di gedung tersebut. Gandeng dengan gedung itu ada bangunan enam tingkat. Paling bawah difungsikan untuk lapangan terbuka. Karena itu, plafonnya sangat tinggi. Di atasnya ada kantin sekolah yang dilengkapi dengan dapur modern.

Di atas kantin terdapat satu ruang besar dengan penataan seperti ruang redaksi di Jawa Pos Surabaya. Itulah ruang guru. Setiap guru memiliki satu meja yang bentuknya mirip meja redaksi Jawa Pos. Ruang tersebut full AC dengan lantai karpet. Setiap guru juga memiliki locker sendiri. Ruang tersebut kelihatan amat “gembira”. Masing-masing (terutama guru wanita) seperti menghias mejanya. Bunga, boneka kecil, mainan anak-anak terlihat di setiap meja. Saya membayangkan guru seperti itulah yang akan disenangi murid.

Di ruang itu pula guru akan membahas perencanaan dan persiapan mengajar. Juga membicarakan prestasi dan kekurangan santri-santrinya. Melihat ruang guru tersebut, saya langsung bermimpi bahwa madrasah yang lagi kami bangun di Magetan sekarang (International Islamic School Pesantren Sabilil Muttaqin) kelak juga harus punya ruang guru seperti itu. Ruang guru yang bagus tentulah menentukan suasana kejiwaan para guru. Guru yang jiwanya baik pada gilirannya akan bisa mengajar secara baik.

Di atas ruang guru tersebut masih ada gedung teater yang dipergunakan untuk pertunjukan atau acara-acara sejenis. Di teater itu pula malam itu diadakan upacara peresmian madrasah yang dihadiri oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Madrasahnya sendiri berada di kanan teater tersebut. Itulah madrasah Al Irsyad Al Islamiyah Singapura (Tidak ada hubungannya dengan Al Irsyad yang ada di Indonesia). Yakni bangunan empat lantai yang berbentuk U. Ada dua kelompok lift di sekolah tersebut, tapi hanya guru dan tamu atau murid yang memerlukan sarana khusus yang boleh lewat lift. Santri biasa harus turun naik lewat tangga.

Sebagai orang yang sejak kecil hidup di madrasah di pedesaan, tentu saya ngiler berada di madrasah yang sarananya, metode belajarnya, dan pemikirannya begitu modern. Jangan ditanya soal kebersihannya. Parit-paritnya saja sudah didesain secara khusus. Apalagi ruang wudu masjidnya. Inilah ruang wudlu yang di setiap pancurannya disediakan sarana permanen untuk sabun cair. Mirip dengan yang ada di bandara internasional atau di hotel bintang lima.

Demikian juga mukena untuk umumnya. Kain sembahyang untuk wanita itu ditaruh di hanger seperti di tempat laundry modern. Dengan sistem penggantungan seperti itu, tidak akan ada mukena yang berbau. Padahal, selama ini, saya selalu hanya melihat mukena yang justru dilipat, lalu dimasukkan ke lemari. Bisa dibayangkan mukena yang di bagian wajahnya pasti basah itu (karena dipakai oleh orang yang baru saja berwudu) menjadi apak dan berbau.

Saya sebenarnya malu harus “impor” madrasah dari Singapura. Tapi, saya juga harus mengakui untuk zaman modern nanti, kita tidak bisa lagi tidak menyesuaikan diri. (*)